Tanggap Darurat
Plt Kepala Pusdatinmas BNPB, Agus Wibowo menyatakan, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy menetapkan masa tanggap darurat pascagempa selama 14 hari, terhitung sejak 26 September 2019 hingga 9 Oktober 2019.
Kota Ambon menjadi salah satu wilayah terdampak karena gempa magnitudo 6,5 yang terjadi pada Kamis 26 September 2019.
“Selama masa tanggap darurat tersebut, Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Kota Ambon bertugas untuk mengkoordinasikan semua unsur untuk penanganan darurat di wilayah administrasinya. Gempa dengan kedalaman 10 kilometer tadi mengguncang beberapa kecamatan seperti Baguala, Teluk Ambon, Sirimau, Nusaniwe dan Kota Ambon,” kata Agus.
Pascagempa juga menyebabkan terjadinya pengungsian warga di Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupate Maluku Tengah sebanyak 244.780 jiwa.
Sementara data kerusakan rumah masih terus dilakukan.
“Data rumah rusak di Kota Ambon berjumlah 374 unit dengan rincian 173 rusak ringan, 74 rusak sedang dan 74 rusak berat,” sebut Agus.
BPBD Provinsi Maluku telah mendirikan dua tenda keluarga di halaman Rumah Sakit Umum Haulussy, Kota Ambon dan RSU Tulehu, Maluku Tengah.
Selain itu, pemerintah daerah setempat juga mendistribusikan terpal kepada masyarakat terdampak.
Upaya pendataan di lapangan masih terus dilakukan oleh tim reaksi cepat BPBD Provinsi Maluku. Upaya pendataan salah satunya untuk mengidentifkasi titik-titik pengungsian.
Sementara ini titik konsentrasi teridentifikasi di Desa Waai seperti di wilayah Air Terjun Waai, Dusun Ujung Batu dan Batu Dua.
Sedangkan di Kota Ambon, penyintas terkonsentrasi di SMA Siliwangi, Kuburan atas SMA 9, dan SMA 9.
“Melihat kondisi terkini, beberapa tantangan masih dihadapi dalam penanganan darurat. Salah satunya perlu upaya intensif untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk segera kembali ke rumah masing-masing. BNPB telah mengirimkan tim pendukung dalam manajemen posko dan dukungan logistik serta peralatan yang telah tiba di Maluku. Di sisi lain, TNI mengoperasionalkan rumah sakit lapangan di Kampus Darussalam, Maluku Tengah,” kata Agus. (Red)