RIENEWS.COM – Tim SAR gabungan telah berhasil menemukan 31 korban meninggal dunia tertimbun longsor di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penemuan terakhir pada Sabtu 5 Januari 2019, sebanyak 9 korban meninggal.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tim SAR gabungan terus berupaya mencari korban tertimbun longsor.
“Dari 100 korban terdampak longsor, tim SAR gabungan telah menemukan 64 orang selamat, 31 orang meninggal dunia, 2 orang hilang dan masih dalam pencarian, dan 3 orang luka. 3 orang luka tersebut, 1 orang luka berat masih dirawat di RS Pelabuhan Ratu, dan 2 orang sudah diperbolehkan pulang,” kata Sutopo, Minggu 6 Januari 2019.
Berita Terkait: Diperkirakan 15 Korban Masih Tertimbun Longsor di Sukabumi
Dijelaskan Sutopo, ke-31 korban meninggal dunia semuanya berhasil diidentifikasi petugas medis. Tim SAR gabungan yang dikoordinir Basarnas dibantu TNI, Polri, BPBD, SKPD, PMI, Tagana, NGO, relawan, dan masyarakat terus melakukan pencarian korban sejak kejadian longsor pada Senin sore, 31 Desember 2018.
Baca Juga: Polda Sulsel Buron WN Nigeria Otak Penipuan Online Investasi Rp2 M
Menurut Sutopo, daerah di Kabupaten Sukabumi banyak yang rawan longsor. Kondisi topografi perbukitan dengan batuan penyusun yang porus, gembur, dan lepas menyebabkan mudah longsor.
“Banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan longsor, menyebabkan tingkat risiko longsor tinggi,” tutur Sutopo.
Selama 10 tahun terakhir, kata Sutopo, telah terjadi 132 kali longsor di Sukabumi dengan beberapa kejadian di antaranya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Seperti longsor di Kecamatan Cireunghas pada 28 Maret 2015, menyebabkan 12 orang meninggal dunia, 293 orang terdampak, dan 11 rumah rusak.
“Mitigasi longsor masih memerlukan banyak perhatian, baik mitigasi struktural seperti penguatan tebing, pemasangan sistem peringatan dini longsor, penghijauan dan lainnya. Juga mitigasi non-struktural seperti pemetaan, sosialisasi, tata ruang, pendidikan kebencanaan, gladi dan lainnya. Puncak musim penghujan sebagian besar wilayah Indonesia adalah Januari hingga Februari. Masyarakat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya,” imbuh Sutopo. (Rep-03)






